Berita

Inilah Kilas Balik 4 Fenomena Tsunami di Indonesia

Fenomena Tsunami
sumber: Okezone Nasional

YOEXPLORE.CO.ID – Sahabat explorer, tsunami merupakan salah satu fenomena alam, yang dalam bahasa Jepang memiliki arti ombak besar di pelabuhan. Tsunami merupakan gelombang air besar yang diakibatkan oleh gangguan di dasar laut, seperti longsor, letusan gunung, jatuhnya benda besar seperti meteor ke dalam air, serta tentunya gempa bumi. Pergeseran lempeng berupa tubrukan yang keras disertai dengan gempa pada daerah lautan berpotensi menimbulkan gelombang tsunami. Gempa bumi di dasar laut kemudian menghasilkan gelombang tsunami yang menyebar ke segala arah dengan kecepatan mencapai 600 kilometer sampai 900 kilometer per jam.

Fenomena Tsunami

sumber: NeoStencil

Tahukah kamu, sahabat explorer, mengapa saat sedang berada di tengah laut ketika terjadi tsunami, kita justru disarankan untuk menjauhi pantai dan pergi lebih jauhke tengah laut? Karena awalnya, gelombang tsunami di laut lepas hanya memiliki amplitudo atau simpangan maksimum gelombang yang kecil, umumnya 30 centimeter sampai 60 centimeter. Namun ketika gelombang mendekati pantai, amplitudo akan meningkat. Itulah mengapa tsunami yang menghantam daratan terlihat seperti dinding air raksasa. Kenaikan permukaan airnya sendiri dapat mencapai 15 meter sampai 30 meter yang menyebabkan banjir dengan kecepatan arus hingga 90 km/jam. Fenomena tsunami dalam skala besar mampu menyebabkan kerusakan parah dengan korban jiwa yang besar.

Fenomena Tsunami

sumber: pinterest

Indonesia sendiri masuk dalam kawasan Lingkaran Api Pasifik, yaitu daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi karena berada dalam jalur cekungan Samudra Pasifik. Terletak pada pertemuan tiga lempeng, yaitu Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, Nusantara ini memiliki tingkat kerawanan gempa yang cukup sering, baik yang berkekuatan rendah maupun tinggi.  Menurut Badan Sains Amerika Serikat, yaitu National Oceanic Atmospheric Administration (NOAA), tercatat bahwa sejak tahun 416 hingga tahun 2018, ada 246 kejadian tsunami di Indonesia lho

Inilah Kilas Balik 4 Fenomena Tsunami di Indonesia: 



Tsunami Krakatau (1883)

Letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 merupakan salah satu sejarah dunia. Bencana yang menurut website Live Science  merupakan letusan paling mematikan dalam sejarah modern tersebut juga mengakibatkan tsunami besar. Fenomena tsunami tersebut terjadi pada tanggal 26 Agustus 1883. Tercatat suara ledakan dan gemuruh letusan Krakatau hari itu terdengar sampai radius lebih dari 4.600 kilometer hingga terdengar di sepanjang Samudra Hindia. Mulai dari dari Pulau Rodriguez dan Sri Lanka di barat hinggake Australia Timur, semua mendengar amukan Gunung Krakatau. Akibat ledakan tersebut, gelombang tsunami setinggi 37 meter pun terjadi.

Tsunami Gunung Krakatau

sumber: voi.id

Diperkirakan sebanyak 36.417 ribu orang tewas pada fenomena alam tahun 1883 ini. Gelombang laut yang diakibatkan letusan Gunung Krakatau menenggelamkan seluruh pantai Jawa dan Sumatera yang berbatasan dengan Selat Sunda. Bahkan pada saat itu, beberapa daerah, seperti Tjaringin, Merak dan Teluk Betung bersih disapu gelombang. Di Anyer sendiri, mercusuar hancur lebur dan hanya menyisakan pondasinya. Sebanyak 165 desa hancur lebur dengan ribuan orang cedera dan meninggal. Hampir seluruhnya bukan merupakan akibat langsung dari letusan dan gempa, melainkan korban gelombang laut besar atau tsunami.

Tsunami Banyuwangi (1994)

Pada tanggal 3 Juni 1994, gempa bumi dengan gelombang tsunami mengguncang wilayah Banyuwangi di Jawa Timur. Daerah yang paling parah menderita akibat fenomena tsunami tersebut dikabarkan terjadi di daerah selatan Banyuwangi. Gempa hari itu menghasilkan gelombang tsunami setinggi 7 meter. Ombak yang tiba-tiba datang begitu cepat langsung meluluhlantakkan perkampungan nelayan, seperti  Desa Pancer. Gelombang tsunami langsung menyapu bersih perkampungan nelayan yang terletak sekitar 150 meter dari bibir pantai itu.

Tsunami Banyuwangi

sumber: siaga bencana

Sedikitnya terdapat 213 rumah warga yang rata dengan tanah. Terdapat sebanyak 187 perahu nelayan yang rusak sehingga tidak dapat digunakan melaut untuk mencari ikan. Demikian pula gedung sekolah, tempat pelelangan ikan, dan kantor-kantor musnah akibat tsunami Banyuwangi. Berdasarkan Harian Kompas edisi 6 Juni 1994, terdapat lebih dari 203 korban tewas yang ditemukan. Dan sebagian besar korban yang ditemukan belakangan, umumnya meninggal karena tertimbun reruntuhan rumahnya sendiri.

Fenomena Tsunami Aceh (2004)

Pada tanggal 26 Desember 2004, para ahli geologi menyebut fenomena tsunami yang satu ini sebagai gempa monster. Guncangan gempa yang berlangsung lebih lama dari biasanya mengundang gunungan ombak yang menerjang pantai dengan kecepatan sangat tinggi. Duka yang dihasilkan oleh tsunami Aceh masih membekas dalam ingatan. Gelombang dengan tinggi kurang lebih 30 meter itu menghancurkan seluruh Aceh bahkan sampai ke pesisir Barat Sumatera. Tsunami tersebut bahkan menjangkau daratan Sri Lanka dan Semenanjung India.

Menelan kurang lebih 170.000 korban jiwa, tsunami dengan kecepatan gelombang hampir 360 kilometer per jam ini menghancurkan kehidupan warga Aceh. Bukan hanya karena bangunan-bangunan yang rata dengan tanah, tetapi juga malapetaka yang dirasakan akibat banyak yang kehilangan sanak saudara karena menjadi korban bencana ini. Namun, selain kekelaman yang menyelimuti musibah ini, tidak sedikit keajaiban yang terjadi selama tsunami.

Musibah Aceh 2004

sumber: DW

Masjid Rahmatullah yang jaraknya hanya 500 meter dari bibir pantai tetap berdiri kokoh saat tsunami menerjang. Bangunan-bangunan di sekitar masjid hancur dan terseret ombak, namun Masjid Rahmatullah menjadi satu-satunya bangunan yang masih kokoh di perkampungan kecamatan Lhoknga. Ada juga salah satu ikon kota Aceh, yaitu Masjid Raya Baiturrahman yang masih tegar berdiri kala tsunami menerjang. Para ahli arsitektur bahkan mengatakan bahwa masjid ini relatif masih utuh dibandingkan dengan bangunan di sekitarnya. Terdapat ratusan orang yang berhasil selamat karena berlindung pada masjid-masjid di Aceh.

Tidak lupa kisah seorang bocah laki-laki bernama Martunis yang selamat setelah 21 hari terombang-ambing di laut. Pada 15 Januari 2005, penduduk menemukan Martunis. Kejadian ini diabadikan oleh seorang wartawan televisi Inggris Sky News yang kebetulan sedang meliput di wilayah itu dan langsung menggendongnya. Momen Martunis yang masih mengenakan kaus timnas Portugal langsung beredar di stasiun televisi Eropa dan menarik simpati banyak bintang top sepak bola Portugal, salah satunya adalah Cristiano Ronaldo yang menjadikan Martunis sebagai anak angkatnya.  

Tsunami Selat Sunda (2018)

Aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau memicu fenomena tsunami pada tanggal 22 Desember 2018. Tsunami Selat Sunda tersebut melanda Lampung dan Banten. Sebanyak 437 orang meninggal dunia, ribuan orang terluka, serta belasan menghilang. Terdapat sekitar 2.752 rumah yang rusak dan mengakibatkan puluhan ribu orang harus mengungsi. Gelombang setinggi 5 meter ini sebelumnya didahului oleh gempa serta tsunami di Pulau Sulawesi, yaitu Palu dan Donggala pada tanggal 28 September 2018 yang juga memakan banyak korban jiwa, yaitu lebih dari 2.000 orang.

Musibah Perairan Selat Sunda

sumber: BBC

Salah satu duka akibat tsunami ini juga dialami oleh vokalis band Seventeen, Riefian Fajarsyah, yang biasa disapa Ifan.  Sebelum tsunami mengamuk di Anyer, Ifan masih sempat menyanyikan dua lagu di depan ratusan peserta gathering PLN di Tanjung Lesung Beach Resort. Tiga dari empat personil band Seventeen beserta istri dari Ifan Seventeen dinyatakan meninggal dunia dalam musibah tahun 2018 tersebut. 

Itulah kilas balik 4 fenomena tsunami di Indonesia. Sahabat explorer, tentu kita sebagai umat manusia selalu berdoa dan mengharapkan yang terbaik walau masa depan berada di tangan Yang Kuasa. Sehubungan dengan kabar akan terjadinya fenomena tsunami megathrust setinggi 20 meter di pulau Jawa pada tahun 2020, berdasarkan penelitian oleh Institut Teknologi Bandung yang didukung oleh BMKG, berikut kami rangkum beberapa cara untuk bertahan hidup saat berada dalam bencana tsunami berdasarkan video animasi dari Indian Ocean Tsunami Information Center UNESCO:

  1. Bila berada di lautan saat tsunami terjadi, bergeraklah ke tengah laut dan jangan kembali ke arah pantai. Karena semakin dekat daratan, gelombang tsunami pun akan semakin tinggi.
  2. Tetaplah berada di atas air saat tsunami terjadi. Gunakan benda-benda yang mengapung seperti kasur, bantal, kayu, jerigen, ban bekas, batang pohon sebagai pelampung darurat.
  3. Bila berada di pantai saat tsunami terlihat, segera lari menjauhi laut dan cari tiang atau pohon terdekat yang bisa dipanjat.
  4. Jika berhasil mengevakuasi diri ke tempat yang lebih tinggi, tetaplah di tempat saat gelombang pertama surut, karena gelombang tsunami selalu datang lebih dari satu kali. Dan biasanya gelombang berikutnya bisa jadi lebih besar dibanding sebelumnya.
  5. Relakan dan segera tinggalkan harta benda saat melakukan evakuasi diri karena membawa harta benda justru akan memperlambat dan mempersulit diri sendiri.

 

 

Tentang penulis

Marisa

Marisa

Saya adalah kontributor untuk majalah YOEXPLORE, seorang hospitality enthusiast yang menyukai seni musik.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments