Berita

9 Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kepatuhan Masyarakat Akan PSBB

faktor kepatuhan masyarakat akan PSBB - yoexplore, liburan keluarga - yoexplore.co.id
image source: tribun

YOEXPLORE, Tour Operator – Sahabat explorer, sudah lebih dari dua minggu kita menjalani yang namanya PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Sudah banyak perubahan terjadi di negara kita ini semenjak adanya pandemi coronavirus baru yang menyebabkan penyakit Covid-19 ini. Oleh karena itu, PSBB diterbitkan untuk mencegah dan memutus mata rantai dari penyebaran SARS-Cov-2 ini di wilayah episenter Covid-19. Ada beberapa faktor kepatuhan masyarakat akan PSBB yang sekarang di Jakarta telah diperpanjang hingga 22 Mei 2020. Karantina jenis ini memang sudah memiliki payung hukum dan juga akan diberikan hukuman bagi mereka yang melanggar aturan tersebut. 

Faktor Kepatuhan Masyarakat Akan PSBB

Panji Hadisoemarto, yang merupakan seorang pakar kesehatan masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran menuturkan jika PSBB dan physical distancing adalah satu-satunya upaya untuk kesehatan masyarakat berskala besar yang dapat dilakukan sampai vaksin yang efektif melawan Covid-19 tersebut ditemukan. 

Baca Juga: Tidak Mendapatkan Kartu Prakerja? Kamu Bisa Mendapatkan Pelatihan Sejenis Secara Gratis Di Youtube!

Dalam sebuah analisis yang ditulisnya kepada Kompas.com, Panji menuliskan bahwa setidaknya 80 persen kasus dan juga kontak dapat ditemukan dan langsung diisolasi. Dengan demikian, hal ini hanya efektif jika dilakukan sebelum penularan penyakit di komunitas terjadi secara meluas. Ada beberapa sumber yang menyebutkan jika penerapan dari physical distancing atau social distaning ini sebaiknya diterapkan hingga 2022 sampai vaksin ini berhasil ditemui, karena sampai sekarang langkah pencegahan terbaik untuk memutus rantai coronavirus adalah dengan menjaga jarak dan isolasi mandiri di dalam rumah. 



Kepatuhan PSBB Di Indonesia

Kemudian, Panji juga mengatakan mengenai upaya kekarantinaan seperti PSBB ini tidak akan efektif jika tidak dipatuhi oleh seluruh kalangan masyarakat. Terdapat sebuah laporan anektodal yang menunjukkan bahwa pelaksanaan PSBB ini tampaknya belum efektif. Hal ini kemudian terbukti dengan sendirinya terlihat masih banyaknya ditemukan keramaian yang ada di tempat-tempat umum seperti di Jakarta dan juga daerah lain yang sudah  menerapkan peraturan PSBB. Maka dari itu, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan masyarakat terhadap masalah kekarantinaan ini harus dipelajari, dipahami dengan detail agar penyampaian dan implementasinya bisa benar kepada masyarakat. 

Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Masyarakat

Panji merangkum menjadi setidaknya sembilan faktor kepatuhan masyarakat akan PSBB ini. Kira-kira ada apa saja? Mari simak ulasannya:

1. Mata Pencaharian dan Demografi

Demografi dan juga mata pencaharian memang bukanlah sebuah faktor yang secara konsisten memengaruhi kepatuhan masyarakat mengenai upaya untuk karantina. Tingkat kepatuhan orang tua juga semakin meningkat semenjak sekolah sudah mulai diliburkan. 

2. Pemahaman Masyarakat Terhadap Wabah

Pemahaman dan juga pengetahuan merupakan faktor yang secara konsisten dapat mempengaruhi kepatuhan masyarakat akan upaya kekarantinaan ini. Tingkat kepatuhan juga berasosiasi dengan pengetahuan tentang aturan dari berbagai jenis karantina termasuk PSBB yang diberlakukan dan juga tentang wabah yang sedang terjadi. Tidak hanya itu saja, kredibilitas sumber informasi juga perlu menjadi perhatian yang lainnya. 



3. Sosiokultural

Faktor sosiokultural juga termasuk kuat dalam mempengaruhi tingkat kepatuhan masyarakat. Tekanan sosial juga berpengaruh sebagai faktor pendukung atau tidak dari tingkat kepatuhan ini. Selain itu, budaya dan juga ketaatan akan hukum juga sangat berhubungan dengan kepatuhan karantina itu sendiri. Upaya karantina yang sudah jelas mengenai konsekuensi hukumnya lebih dipatuhi daripada yang bersifat suka rela atau anjuran saja. 

4. Keuntungan Jika Mematuhi Karantina

Jika masyarakat mengetahui persepsi yang positif mengenai manfaat dari karantina itu sendiri juga dapat meningkatkan tingkat kepatuhan. 

5. Pemahaman Terhadap Risiko

Jika seseorang semakin merasa dirinya berisiko untuk terinfeksi suatu penyakit, maka hal itu akan membuat semakin tinggi tingkat kepatuhannya. Persepsi risiko yang satu ini juga dapat meningkat ketika ada seorang anggota keluarga yang terinfeksi dari penyakit tersebut. Persepsi ini juga kemungkinan bisa meningkat pada gelombang kedua wabah, dan mungkin juga karena telah terjadi peningkatan pengetahuan tentang penyakit tersebut dan juga aturan upaya kekarantinaan.

6. Alasan Yang Praktis

Ketakutan akan kehilangan pekerjaan atau mata pencaharian yang lainnya juga dapat menurunkan kepatuhan terhadap upaya berbagai jenis karantina tersebut. Selain urusan-urusan yang emergensi, urusan keluarga, seperti keluarga yang jatuh sakit, juga bisa menjadi faktor sebagai pendorong untuk melanggar kekarantinaan

7. Kepercayaan Masyarakat Akan Sistem Kesehatan Yang Berlaku

Selanjuntya, kepercayaan terhadap sebuah sistem kesehatan nampaknya tidak memengaruhi kepatuhan masyarakat terhadap sebuah upaya karantina seperti PSBB ini. 

8. Durasi Karantina

Durasi karantina juga dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan. Sebuah laporan menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan karantina menurun setelah lima hari. 

9. Kepercayaan Terhadap Pemerintah

Laporan dari salah satu negara di Afrika yaitu, Senegal menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap karantina lebih tinggi bagi mereka yang lebih mempercayai kinerja dari pemerintah.

Sahabat explorer, itulah beberapa faktor kepatuhan masyarakat akan PSBB atau karantina jenis yang lainnya. Ada beberapa rekomendasi yang diberikan oleh Webster dkk, yaitu dengan memperjelas beberapa aturan mengenai kekarantinaan dan juga disampaikan oleh sumber yang kredibel, terpercaya dan juga akurat. Yang kedua adalah dengan memperkuat norma sosial, misalnya dengan memperkuat pesan akan norma kepatuhan terhadap upaya kekarantinaan sebagai upaya kolektif dalam memerangi wabah. Selain itu juga ada penjaminan untuk kebutuhan sehari-hari, dan ini merupakan salah satu faktor kunci akan kesuksesan sebuah upaya kekarantinaan. 

Semoga artikel ini bermanfaat, tetap #dirumahaja dan stay safe, explorer!

 

Tentang penulis

Romzi Shamlan

Romzi Shamlan

Saya adalah kontributor untuk majalah YOEXPLORE pengalaman dalam blogging di bidang musik, membuat konten kreatif di bidang musik, radio, dan film.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments