Berita

WHO Update Vaksin Corona! 3 Uji Coba Pada Manusia

update vaksin coronavirus - yoexplore, liburan keluarga - yoexplore.co.id
image source: okezone

YOEXPLORE, Tour Operator – Sahabat explorer, sampai hari ini para peneliti dan ahli masih melakukan riset terkait update vaksin coronavirus baru yang menyebabkan penyakit Covid-19. Penelitian memang tentunya memerlukan waktu yang cukup lama, sahabat explorer. Oleh karena itu, selama belum ada vaksinnya, yang bisa kita lakukan adalah memutus rantai penyebaran dari Covid-19 ini. Bagaimana? Tentunya dengan cara menerapkan physical distancing, work from home, pray from home, dan tentunya dengan penerapan PSBB yang sudah berlaku di DKI Jakarta, Bogor, dan juga Kota Depok. 

Baca Juga: Kenali Gejala Baru Coronavirus Berikut Ini

Update Vaksin Coronavirus

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengungkapkan bahwa pada saat ini, ada 70 kandidat vaksin corona yang potensial dan sedang dikembangkan di seluruh dunia. Tiga diantaranya bahkan sudah mencapai tahap uji klinis. Dilansir dari Bloomberg, pada hari Senin 13 April yang lalu, berbagai tim peneliti dari seluruh dunia tengah berlomba-lomba mengembangkan vaksin untuk menangkal coronavirus baru yang menyebabkan Covid-19 ini. Mereka berharap dapat memangkas waktu yang biasanya dibutuhkan untuk mengembangkan vaksin agar bisa sampai ke pasaran. Dari yang sekitar 10 sampai dengan 15 tahun hanya dengan menjadi 1 tahun saja, sahabat explorer. Luar biasa sekali ya, sahabat explorer! Mari kita dukung dan doakan para peneliti di seluruh dunia ini ya!

Upaya ini tidak hanya dilakukan oleh para farmasi raksasa saja. Perusahaan bioteknik kecil sampai ke pusat-pusat akademik dan kelompok nirlaba juga diperlibatkan. Di antara semuanya, update vaksin coronavirus yang sudah paling jauh pengembangannya adalah vaksin buatan CansSino Biologics Inc., Hong Kong dan Beijing Institute of Biotechnology. Sejak mendapatkan persetujuan dari pemerintah China untuk melakukan uji klinis pada manusia semenjak bulan Maret lalu, vaksin hasil kolaborasi kedua institusi ini sudah mencapai fase kedua. 

Sementara itu, seperti yang diungkapkan dalam dokumen WHO yang dirilis pada 11 April 2020, dua vaksin lainnya yang juga sudah melakukan uji klinis pada manusia adalah vaksin buatan Moderna Inc. dan Inovio Pharmaceuticals Inc. Kedua perusahaan tersebut sama-sama berasal dari Amerika Serikat, namun mereka berdua mengambil rute pengembangan yang berbeda. Inovio baru saja memulai pengujian klinis fase 1 pada manusia minggu yang lalu, setelah menunjukkan data respons imunitas yang baik dan potensial dalam uji praklinis terhadap hewan. 

Sedangkan Moderna Inc.,  yang belum pernah mengembangkan vaksin sebelumnya sudah mendapatkan persetujuan untuk memulai uji klinis pada manusia semenjak bulan Maret, tanpa perlu melakukan uji coba pada hewan terlebih dahulu. Di samping kedua tim, perusahaan-perusahaan farmasi raksasa yang lain juga berupaya untuk mengembangkan vaksin adalah Johnson & Johnson dan juga Sanofi. 



Keraguan Para Pakar

Tidak hanya WHO saja, Anthony Fauci selaku direktur dari Institusi Alergi dan Penyakit Menular AS, juga pernah menyebut jika vaksin virus corona ini bisa tersedia dalam kurun waktu 12 sampai 18 bulan. Akan tetapi, para pakar lainnya menyangsikan kalau hal itu bisa tercapai. Paul Offit, salah satu penemu vaksin rotavirus pada tahun 1990-an, juga mengatakan, “ketika Dr Fauci menyebutkan 12 sampai 18 bulan, saya rasa itu terlalu optimistik, dan saya yakin dia juga begitu (merasa terlalu optimistik)”. Pasalnya, pengembangan dari update vaksin coronavirus baru ini membutuhkan perjalanan yang panjang hingga sampai ke pasaran. Kandidat vaksin harus diuji terlebih dahulu di laboratorium, pada hewan, dan pada sekelompok kecil manusia untuk memastikan keamanannya; sebelum bisa diujikan lagi kepada kelompok manusia yang lebih besar untuk mengetahui efektifitasnya. 

Peter Hotez selaku dekan dari National School of Tropical Medicine at Baylor College of Medicine juga berkata bahwa kandidat-kandidat vaksin yang melompati tahap pengujian pada hewan tersebut dikhawatirkan malah berisiko memperlemah respons partisipan uji coba terhadap virus itu sendiri. “Cara untuk mengurasi risiko itu adalah menunjukkan bahwa itu tidak terjadi pada hewan di laboratorium,” ujarnya. 

Sahabat explorer, sudah menjadi kewajiban kita untuk terus menggali informasi mengenai perkembangan Covid-19 beserta vaksinnya. Jangan mudah termakan berita palsu atau broadcast WhatsApp yang tidak berdasar. Semoga artikel ini bermanfaat, tetap #dirumahaja dan stay safe, explorer!

 

Tentang penulis

Romzi Shamlan

Romzi Shamlan

Saya adalah kontributor untuk majalah YOEXPLORE pengalaman dalam blogging di bidang musik, membuat konten kreatif di bidang musik, radio, dan film.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments