Seni dan Budaya Yogyakarta

Cerita Traveling ke Jogja: Telusuri 4 Destinasi Wisata di Keraton Jogjakarta

Cerita Traveling ke Jogja - Taman Sari Jogja
Spread the love


Kalau kamu sangat senang tentang wisata sejarah, cerita traveling ke Jogja kali ini akan memberikanmu referensi yang pas untukmu berwisata. Paket wisata sejarah kali ini akan membawamu menelusuri Kraton Jogjakarta dan sejarahnya. 

Keraton Jogjakarta, Cerita Traveling ke Jogja yang Tidak Bisa Terlewatkan

Kraton Jogjakarta adalah jantung kota Jogjakarta. Tidak hanya kompleks istana, tetapi juga tempat tinggal Sultan Jogjakarta dan keluarganya. Bersiaplah untuk terkesima dengan jendela kaca patri bergaya Belanda yang menghiasi istana, atau atap dan lantai marmer yang didekorasi dengan rumit.

Di sini, kamu bisa menemukan beberapa museum kecil yang memajang artefak dari berbagai kesultanan, serta artefak Jawa lainnya dari era yang berbeda. Kamu juga bisa menemukan foto-foto Sultan Jogjakarta sebelumnya.

Struktur Keraton Jogjakarta

Cerita Traveling Ke Jogja - Keraton Jogja

Cerita traveling ke jogja akan semakin lengkap dengan membahas struktur keraton Jogjakarta. Kraton terdiri dari serangkaian ruang mewah, halaman luas, dan paviliun dibangun antara 1755 dan 1756, dengan nuansa Eropa, seperti kaca patri yang dipengaruhi gaya Belanda, yang ditambahkan pada tahun 1920.

Awalnya ada pintu masuk terpisah ke keraton untuk pria dan wanita, ditandai dengan naga jantan dan betina raksasa. Meskipun pemisahan ini tidak lagi dipraktikkan, apresiasi sejarah tertanam jauh di sini, dan istana dihadiri oleh para pengikut lansia yang bermartabat, yang mengenakan pakaian tradisional Jawa. 

Kompleks terdalam terlarang karena sultan saat ini masih tinggal di sini, tetapi pengunjung dapat memasuki beberapa halaman sekitarnya. Sayangnya, harta karun istana tidak ditampilkan dengan baik, tetapi tetap menjadi tempat yang menarik untuk dijelajahi.

Di tengah keraton adalah ruang resepsi, Bangsal Kencana (Paviliun Emas). Dengan lantai marmer yang bagus, atap yang didekorasi dengan rumit, jendela kaca patri, dan tiang dari kayu jati berukir, membuat pernyataan yang sangat mengesankan untuk resepsi para pejabat asing. 

Hal yang menarik di sini juga termasuk salinan emas pusaka sakral (pusaka keluarga kerajaan) dan alat musik gamelan, silsilah keluarga kerajaan, foto-foto lama pernikahan masal akbar, dan potret mantan sultan Jogya. Sebuah bangunan peringatan modern yang didedikasikan untuk Sultan Hamengku Buwono IX tercinta, dengan foto-foto dan beberapa barang pribadinya, menempati beberapa ruang samping.

Bukan hanya itu, di luar keraton, di tengah alun-alun utara, terdapat dua waringin keramat (pohon beringin). Di zaman Jawa feodal, pemohon berjubah putih dengan sabar duduk di sini, berharap bisa menarik perhatian raja.

Di alun-alun kidul (alun-alun selatan), dua pohon beringin serupa dikatakan membawa keberuntungan besar bagi mereka yang bisa berjalan dengan mata tertutup di antara mereka tanpa kecelakaan. Pada Jumat dan Sabtu malam para pemuda dan wisatawan biasanya mencoba hal ini dengan paduan tawa dari teman-teman.

Pertunjukkan yang kamu bisa nikmati di Keraton Jogjakarta

Cerita traveling ke Jogja memang belum lengkap tanpa pertunjukkan, tenang saja di keraton Jogya terdapat beberapa pertunjukkan yang dapat kamu nikmati. Pertunjukan harian di paviliun dalam keraton sudah termasuk dalam harga tiket masuk. 

Saat ini ada gamelan pada hari Senin dan Selasa (10 pagi sampai siang), wayang golek pada hari Rabu (9 pagi sampai siang), tari klasik pada hari Kamis (10 pagi sampai siang), pembacaan puisi Jawa pada hari Jumat (10 pagi sampai 11:30), kulit wayang kulit pada hari Sabtu (9 pagi sampai 1 siang), dan tari Jawa pada hari Minggu (11 pagi sampai siang).



Masjid Gedhe Kauman

Ketika mengunjungi keraton Jogjakarta, jangan lupa untuk berkunjung ke Masjid Gedhe Kauman. Masjid ini memiliki struktur bangunan yang tidak kalah unik. Masih dengan nuansa yang sama dengan keraton Jogjakarta, Masjid Gedhe kauman menjadi salah satu bangunan bersejarah yang tidak boleh terlewatkan.

Masjid ini dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I pada 29 Mei 1773. Pembangunan ini melibatkan Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat sebagai penghulu keraton pertama, sementara Kyai Wiryokusumo sebagai Arsiteknya. 

Cerita Traveling ke Jogja: Taman Sari Jogjakarta, Istana Air Kesultanan 

Cerita traveling ke Jogja selanjutnya adalah menuju Taman Sari. Masih berkaitan dengan keraton Jogjakarta. Taman Sari Jogjakarta  juga dikenal sebagai  Istana Air Taman Sari , sebuah taman rekreasi air yang indah dan dulunya merupakan taman kerajaan kesultanan Jogjakarta. Dibangun pada pertengahan abad ke-18 dan terletak di pusat Kota Jogjakarta, atau hanya selangkah dari  keraton Jogjakarta. 

Selain itu, kawasan ini memiliki fungsi ganda seperti untuk peristirahatan, bengkel, meditasi, pertahanan sekaligus tempat persembunyian. Sedangkan Taman Sari terdiri dari empat kawasan yang berbeda, yaitu danau buatan berukuran besar dengan pulau dan paviliun di sebelah barat, kompleks pemandian di tengah, kompleks paviliun dan kolam di selatan, dan danau yang lebih kecil di timur. 

Kawasan Taman Sari, merupakan satu-satunya kompleks pemandian sentral yang masih terawat dengan baik hingga saat ini. Sedangkan wilayah lainnya sebagian besar sudah ditempati oleh pemukiman Kampung Taman. Apa lagi, pemerintah daerah telah menunjuk situs ini sebagai  tujuan wisata .

Cerita Traveling ke Jogja - Taman Sari Jogja

Lokasi Taman Sari

Taman Sari  ini berlokasi di Jl. Nogosari No.6, Patehan, Keraton, Kota Jogjakarta. Lokasinya sangat strategis di jantung kota Jogjakarta serta hanya selangkah dari keraton Jogjakarta. 

Sementara itu, kamu dapat mencapai tempat ini dengan mudah dari keraton dengan berjalan kaki selama 15 menit. Selain itu, ada banyak becak yang bisa mengantarmu ke Taman Sari dengan biaya yang murah.

Sejarah Cerita Traveling Ke Jogja: Tentang Istana Air Taman Sari

Cerita traveling ke Jogja kali ini tentu saja memiliki sejarah yang menarik. Istana air ini dimulai pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I, sultan pertama Jogjakarta. Namun bangunan ini diselesaikan oleh Sultan Hamengkubuwono II. Sedangkan tempat ini dikenal sebagai tempat pemandian bernama Mata Air Pachetokan sejak masa pemerintahan Sunan Amengkurat IV 1719 – 1726. 

Selanjutnya, menurut Kitab Suci Mamana disebutkan bahwa, pemimpin proyek pembangunan gedung ini adalah Tumenggung Mangundipura. Ia pernah belajar arsitektur Eropa di Batavia (sekarang Jakarta) selama dua kali bepergian ke kota ini.

Oleh karena itu, bentuk bangunan Taman Sari mengadopsi gaya Eropa. Pembangunannya telah dimulai sejak 1758 M dan sempat hancur akibat invasi Inggris tahun 1872.

Museum Benteng Vredeburg, Tempat Cerita Traveling ke Jogja Menarik 

Museum Benteng Vredeburg adalah salah satu tempat menarik Jogjakarta yang populer. Selanjutnya merupakan museum sejarah resmi ternama Indonesia, Museum Benteng Vredeburg Jogjakarta yang merupakan bekas benteng kolonial yang terletak di Kota Jogjakarta. Cerita traveling ke Jogja di musuem benteng Vredeburg ternyata masih terkait kesultanan atau keraton Jogja, loh, sahabat explorer.

Ternyata, awalnya museum ini dibangun dengan tujuan untuk menjaga keraton dari serangan luar istana. Namun, yang terjadi kemudian adalah perubahan fungsi benteng menjadi sebuah tempat untuk memata-matai gerak-gerik musuh. 

Museum ini mengumpulkan foto-foto lama, benda bersejarah, serta replika. Diorama yang menggambarkan perjuangan kemerdekaan Indonesia juga ditampilkan di museum. Ini adalah tempat yang terkenal dan juga ditunjuk sebagai tujuan wisata di kota Jogja.

Cerita Traveling ke Jogja

Lokasi Museum Vredeburg

Museum Vredeburg ini adalah tempat yang bagus untuk dikunjungi selama kunjungan kamu ke Jogjakarta dan ini. Kamu dapat mempelajari  kisah lama perjuangan orang-orang lokal melawan penjajahan di negara ini. Lokasinya di kawasan strategis dan dekat dengan tempat-tempat menarik lainnya, seperti Keraton Jogjakarta, Pasar Burung Ngasem, Kota Gede, Candi Prambanan, dan Taman Sari. Oleh karena itu, tempat ini sangatlah ideal untuk dikunjungi ketika mengunjungi Kota Jogjakarta.

Museum Benteng Vredeburg terletak di Jalan Ahmad Yani No. 6, Kota Jogjakarta, Provinsi Jogjakarta, Indonesia. Sedangkan bangunan bersejarah ini berada persis di depan Gedung Agung (salah satu dari tujuh istana presiden di Indonesia) dan keraton Jogjakarta (Kraton Jogjakarta)

Arsitektur Museum Vredeburg

Salah satu hal menarik dari cerita traveling ke Jogja kali ini adalah gambaran arsitektur Museum Vredeburg.  Benteng Vredeburg ini ternyata saat pertama kali dibangun, keadaannya masih sangat sederhana. Temboknya hanya dari tanah yang diperkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon kelapa dan aren.

Selain itu, bangunan didalamnya terdiri atas bambu dan kayu dengan atap hanya ilalang, dibangun dengan bentuk bujur sangkar. Lalu, keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut seleka atau bastion. 

Pada saat itu benteng belum bernama Vredeburg. Oleh Sultan keempat, sudut itu diberi nama tertentu. Masing-masing nama itu adalah, Jaya Wisesa (sudut barat laut), Jaya Purusa (sudut timur laut), Jaya Prakosaningprang (sudut barat daya), dan Jaya Prayitna (sudut tenggara).

Belum sampai di situ, perkembangan benteng terus terjadi. Sebut saja Gubernur Belanda saat itu adalah W.H. van Ossenberg, mengusulkan penguatan benteng dengan cara membangun benteng lebih permanen agar lebih menjamin keamanan.

Dilansir dari museumindonesia.com, benteng ini mulai dibangun pada tahun 1767, di bawah pengawasan seorang ahli ilmu bangunan dari Belanda yang bernama Ir. Frans Haak. Faktanya, pembangunan baru selesai tahun 1787, hal ini dikarenakan Sultan HB I sedang disibukkan dengan pembangunan keraton.

Menariknya, terjadi perubahan nama setelah pembangunan. Ketika pembangunan benteng selesai, kemudian diberi nama ‘Rustenberg’ yang berarti benteng peristirahatan. Pada tahun 1867 di Jogjakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga mengakibatkan rusaknya sebagian bangunan benteng.

Setelah diadakan perbaikan, nama benteng diubah menjadi ‘Vredeburg’ (benteng perdamaian). Hal ini sebagai manifestasi hubungan antara Belanda dan keraton yang tidak saling menyerang.

Cerita lainnya, pada tahun 1947 diadakan upacara peringatan 40 tahun berdirinya Budi Utomo di benteng tersebut. Selain itu, Ki Hadjar Dewantara mengutarakan gagasan untuk mengubah benteng tersebut menjadi institusi budaya. 

Tertarik untuk menulis cerita traveling ke jogja versimu? Jadi Guest Post di YoExplore Yuk!

Kamu sering bepergian ke jogja dan ingin menulis cerita traveling ke Jogja? Yuk kirim tulisanmu di YoExplore sebagai Guest Post Gratis! Menulis artikel juga bisa menjadi sebuah kebiasaan bagus, untuk mengikat memorimu tentang perjalananmu selama ini, loh!

Tentang penulis

Warda Karimah

Warda Karimah

Menjelajahi dunia, menikmati berbagai cita rasa masakan di dunia dan juga mencoba berbagai hal baru membuat hari saya sangat menyenangakan. Sebagai digital marketing trainee di Yoexplore saya sangat bersemangat utuk membagi berbagai hal tersebut bersama sahabat explorer, selamat membaca!

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments